Tangisan Anak di Hari Pertama Sekolah: Memahami Separation Anxiety pada Anak Usia Dini
Pada hari pertama sekolah, anak
maupun orang tua merasakan momen yang penuh emosi. Tidak sedikit pada anak usia
dini yang menangis di hari pertama sekolah, sehingga ia menolak untuk masuk ke
dalam kelas dan berusaha untuk menggenggam tangan orang tuanya karena takut
ditinggalkan. Masih banyak orang yang memiliki tanggapan jika anak berada dalam
kondisi ini merupakan sikap anak yang manja. Anak usia dini belum memiliki
kemampuan regulasi emosi yang matang, sehingga perubahan lingkungan yang
mendadak dapat memicu rasa takut dan tidak aman. Menurut para ahli, perilaku
ini disebut sebagai bentuk separation anxiety atau kecemasan berpisah.
Separation anxiety merupakan
kondisi anak ketika merasakan kecemasan yang berlebihan saat berpisah dari
orang tua atau pengasuh terdekatnya. Kecemasan ini muncul karena anak belum
sepenuhnya siap secara emosional untuk menghadapi lingkungan baru tanpa kehadiran
orang yang memberinya rasa aman dalam sehari-harinya. Pada anak usia dini,
separation anxiety dapat dilihat dari perilaku anak seperti menangis
berkepanjangan, sulit dalam berinteraksi dengan teman sebaya, hingga
menunjukkan sikap ketergantungan yang tinggi pada orang tuanya karena tidak mau
mengikuti pembelajaran. Kondisi ini bukan termasuk gangguan, melainkan bagian
dari proses perkembangan emosional pada anak.
Anak usia dini menjadi subjek utama
yang paling rentan mengalami separation anxiety karena berada pada tahap
perkembangan emosional yang masih bergantung pada kehadiran orang tua. Dengan
dukungan langsung dari orang tua dan guru yang memberikan rasa aman,
perlindungan, dan kenyamanan sebagai figur penting dalam kehidupan anak.
Sebagai guru PAUD kita berperan dalam menciptakan rasa aman, membangun
kedekatan emosional, serta membantu anak menyesuaikan diri dengan lingkungan
belajar. Kerja sama yang baik dari orang tua dan guru dalam memahami kebutuhan
emosional anak menjadi keberhasilan anak dalam mengatasi kecemasan tersebut.
Ketika anak merasa dipahami dan tidak dipaksa, anak akan lebih siap beradaptasi
dengan lingkungan sekolah.
Separation anxiety umumnya terjadi
ketika anak pertama kali memasuki lingkungan sekolah atau mengalami perubahan
besar dalam rutinitas sehari-harinya. Selain itu, kecemasan berpisah juga dapat
terjadi ketika anak mengalami pergantian guru, pindah sekolah, atau perubahan
situasi keluarga di rumah. Kondisi ini menunjukkan bahwa separation anxiety
tidak hanya terjadi sekali, tetapi dapat muncul berulang kali ketika anak
merasa kehilangan rasa aman akibat perubahan lingkungan.
Beberapa faktor penyebab separation anxiety dapat terjadi karena pola asuh yang terlalu melindungi tanpa memberikan kesempatan anak untuk belajar mandiri, sehingga anak memiliki ketergantungan emosional. Selain itu, kurangnya pengalaman anak dalam bersosialisasi sebelum masuk sekolah juga dapat membuat anak menjadi kesulitan dalam menghadapi lingkungan baru. Maka dari itu, perlu adanya hubungan kelekatan yang diimbangi dengan kemandirian pada anak supaya tidak merasa takut.
Dalam mengatasi separation anxiety
pada anak yaitu sebagai guru dapat membantu anak dalam menciptakan suasana
kelas yang hangat, ramah, dan menyenangkan, sehingga anak merasa aman saat
berada di sekolah. Membuat kegiatan dalam bermain, komunikasi yang lembut, dan
pendampingan secara bertahap dapat membantu anak mengalihkan perhatian dari
rasa cemas. Guru juga dapat membangun hubungan emosional yang positif agar anak
merasa dipercaya dan dihargai. Sementara itu, orang tua berperan dalam
menyiapkan mental anak sebelum berangkat sekolah, menunjukkan sikap tenang
supaya anak merasa lebih aman, serta menjelaskan hal positif tentang sekolah.
Konsistensi antara pola asuh di rumah dan pendekatan di sekolah menjadi kunci
utama dalam membantu anak dalam mengatasi kecemasan berpisah.
Penulis: Sari Nur Kholidiyah
Editor : Putri Aurellia Luthfi
Mahardika dan Verrencia Audya Dasilva
Reviewer : Nurul Khotimah
Referensi
Ambari, P. K. M., Panjaitan, L. N.,
& Kartika, A. (2020). Penanganan Guru PAUD Terhadap Kecemasan Berpisah Pada
Anak di Sekolah. Insight: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 16(1),
124.
Nisa, H., & Wulandari, H.
(2024). Peran Guru Dalam Menangani Anak Dengan Kecemasan Berpisah Dari Orang
Tuanya (Separation Anxiety Disorder). Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(13),
344-351.